UJIAN SUMATIF DAN SEMESTER BAGI KELAS VII DAN VIII AKAN DILAKSANAKAN PADA HARI JUMAT TANGGAL 3 JUNI SAMPAI DENGAN 9 JUNI 2022. UNTUK MELIHAT ROSTER UJIAN KLIK TULISAN INI

IKLAN

ARTIKEL - EVALUASI DALAM PENDIDIKAN ISLAM


 

EVALUASI DALAM PENDIDIKAN ISLAM

 

Khalisah Nabila , Nilam Padelia , Resha Putri Khairunisa , Sri Rahmawati

E-mail: khalishahnabila09@gmail.com , nilampadeliaaa@gmail.com , reshaputri587@gmail.com , rahmawati290103@gmail.com

Program Studi Pendidikan Agama Islam

Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Ishlahiyah Binjai

 

ABSTRACT

Educational objectives are indispensable in educational institutions, including Islamic education which has many objectives that are used as references in carrying out its programs. To determine whether the achievement of an educational program is successful or not, an evaluation process is required. The evaluation process really needs to be done because it will determine the success of the program that has been implemented. In Islamic education and general education the evaluation process can be done in various ways. However, whether the evaluation system carried out by Islamic education and general education is carried out in the same way. So here the author will discuss the evaluation system in Islamic education. In this discussion the writer uses literature study to understand evaluation in Islamic education. The author is looking for various primary and secondary references related to evaluations carried out in Islamic education. The results obtained from this discussion are that the evaluation applied by Islamic education is different from the evaluation carried out by general education. In Islamic education the objects evaluated by students are not only matters related to science, and not only with regard to religious and moral behavior, but the balance between the two. Students are evaluated on religious, social, scientific behavior, skills, and much more.

Keywords: Evaluation, Value, Islamic Education

 

ABSTRAK

Tujuan pendidikan sangat diperlukan di lembaga pendidikan, termasuk pendidikan islam yang memiliki banyak tujuan yang dijadikan acuan dalam menjalankan programnya. Untuk mengetauhi pencapaian program pendidikan itu berhasil atau tidak maka diperlukan proses evaluasi. Proses evaluasi sangat perlu dilakukan karena itu akan menjadi penentu keberhasilan program yang telah dilaksanakan. Dalam pendidikan islam maupun pendidikan umum proses evaluasi dapat dilakukan dengan  berbagai cara. Tetapi, apakah sistem evaluasi yang dilakukan oleh pendidikan islam dan pendidikan umum itu dilakukan dengan cara yang sama. Maka disini penulis akan membahas tentang sistem evaluasi dalam pendidikan islam. Dalam pembahasan ini penulis menggunakan studi pustaka untuk memahami evaluasi dalam pendididkan islam. Penulis mencari berbagai rujukan primer maupun skunder yang berkaitan dengan evaluasi yang dilaksanakan dalam pendidikan islam. Hasil yang didapat dari pembahasan ini adalah evaluasi yang diterapkan oleh pendidikan islam berbeda dengan evaluasi yang dilakukan oleh pendidikan umum. Dalam pendidikan islam obyek yang dievaluasi dari peserta didik tidak hanya hal-hal yang berkaitan dengan keilmuan saja, dan bukan hanya berkaitan dengan prilaku keagamaan dan moralnya saja, tetapi keseimbangan diantara keduanya. Peserta didik dievaluasi tingkah laku keagamaan, sosial, keilmuan, keterampilan, dan masih banyak lagi.

Kata Kunci: Evaluasi, Nilai, Pendidikan Islam

A.   PENDAHULUAN

Pendidikan Islam adalah pendidikan yang memiliki pengaruh yang sangat baik bagi perilaku peserta didik, karena dalam pendidikan islam terdapat ajaran yang berlandaskan unsur-unsur nilai yang terkandung dalam ajaran islam (Nata, 2010). Tujuan ajaran Islam adalah untuk mendidik manusia agar menjadi muslim yang haqiqi, tunduk dan beribadah kepada Allah SWT. sehingga mencapai insan yang memiliki akhlak terpuji dan mulia (Mursyi, 1987), dengan mengedepankan aspek rohani dalam setiap pebuatan tingkah laku, sehingga apa yang dilakukan dapat memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain (Junanto, 2016). Dan agar terbentuknya peserta didik yang berkarakter tersebut maka diperlukan penanaman nilai islami dalam kegiatan keseharian peserta didik agar mereka terbiasa berperilaku baik (Wahyuningsih & Budiyono, 2014).

Program yang dibuat dalam pendidikan Islam selalu berorientasi pada tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan tersebut (Mujib, 2006), sehingga hasil yang didapat sesuai dengan yang diharapkan. Setelah melakukan evaluasi atau penilaian kita dapat melihat keberhasilan suatu program yang dibuat dan dapat melihat kekurangan dan kelebihan program tersebut, serta dapat menentukan langkah selanjutnya untuk dapat memperbaiki atau memajukan program sebelumnya, dengan melalukan evaluasi dapat diketahui hasil belajar peserta didik, apakah program tersebut membuahkan hasil sesuai yang diharapkan atau tidak sama sekali. Tanpa kegiatan evaluasi , maka tidak akan diketahui kelebihan dan kekurangan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik dan pendidik (Saifulloh & Safi’I, 2017). Jika hasil evaluasi sesuai dengan yang diinginkan maka program tersebut dapat dinyatakan berhasil, namun jika tidak  berhasil maka program pendidikan perlu dilakukan perbaikan  sehingga dapat mencapai tujuan yang ingin dicapai (Umar, 2010).

B.   EVALUASI DALAM PENDIDIKAN ISLAM

1.     Pengertian Evaluasi

Secara bahasa evaluasi berasal dari kata bahasa inggris “evaluation” yang artinya nilai atau harga. Kemudian dalam bahasa arab evaluation berarti tatsmiim, taqyim atau taqdir (Baalbaki, 2006: Sudion, 2005). Jadi, secara harfiah evaluasi pendidikan atau taqdir al-tarbawy diartikan sebagai penilaian dalam pendidikan atau penilaian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan (Ramayulis, 2002). Penilaian disini bukan berarti hanya berlangsung pada awal kegiatan pendidikan saja, namun penilaian juga berlangsung ketika selama proses pendidikan berlangsung.

 Evaluasi dalam wacana keislaman ditemukan beberapa padanan kata yang pasti, yaitu:

1.      al-hisab (perkiraan, penafsiran, perhitungan)

Firman Allah SWT :

لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الۡاَرۡضِ‌ؕ وَاِنۡ تُبۡدُوۡا مَا فِىۡۤ اَنۡفُسِكُمۡ اَوۡ تُخۡفُوۡهُ يُحَاسِبۡكُمۡ بِهِ اللّٰهُ‌ؕ فَيَـغۡفِرُ لِمَنۡ يَّشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَنۡ يَّشَآءُ‌ ؕ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيۡيۡرٌ

“Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu nyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah memperhitungkannya (tentang perbuatan itu) bagimu. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al-Baqarah/2:284)

2.       al-bala (percobaan dan pengujian)

Firman Allah SWT :

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوْا أَنْ يَقُوْلُوْا آمَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُوْنَ . وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ، فَلَيَعْلَمَنَّ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِيْنَ

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan, "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang jujur dan sesungguhnya Dia benar-benar mengetahui orang-orang yang dusta!." (QS. Al-Ankabut/29:2-3)

3.       al-hukm (pemutusan)

Firman Allah SWT:

اِنَّ رَبَّكَ يَقۡضِىۡ بَيۡنَهُمۡ بِحُكۡمِهٖ‌ۚ وَهُوَ الۡعَزِيۡزُ الۡعَلِيۡمُ

“Sungguh, Tuhanmu akan menyelesaikan (perkara) di antara mereka dengan hukum-Nya, dan Dia Mahaperkasa, Maha Mengetahui”. (QS. An-naml/27:78)

4.       al-qadha( keputusan)

Firman Allah SWT:

قَالُوْا لَنْ نُّؤْثِرَكَ عَلٰى مَا جَاۤءَنَا مِنَ الْبَيِّنٰتِ وَالَّذِيْ فَطَرَنَا فَاقْضِ مَآ اَنْتَ قَاضٍۗ اِنَّمَا تَقْضِيْ هٰذِهِ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا ۗ

“Mereka (para pesihir) berkata, “Kami tidak akan memilih (tunduk) kepadamu atas bukti-bukti nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan atas (Allah) yang telah menciptakan kami. Maka putuskanlah yang hendak engkau putuskan. Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini”. (QS. Thaha/20:72)

5.      al-nazhr (penglihatan) dan

Firman Allah SWT:

وَقَالُوا مَا لَنَا لَا نَرَىٰ رِجَالًا كُنَّا نَعُدُّهُمْ مِنَ الْأَشْرَارِ

“Dan (orang-orang durhaka) berkata: “Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu (di dunia) kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (hina)”. (QS. Shaad:62)

6.      al-imtihan (pengujian), term ini digunakan oleh Muhammad SAW athiyah Al-abrasy.

Kata nilai menurut filosof diartikan sebagai “idea of worth”. Kemudian kata nilai menjadi popular dan terkenal, bahkan juga menjadi istilah yang bahkan tidak hanya digunakan dalam bidang ekonomi atau perhitungan saja namun juga dalam ranah pendidikan. Kata nilai biasanya disangkutpautkan dengan harga. Nilai artinya “power in exchange”.

Secara istilah evaluasi mempunyai berbagai pengertian menurut para ahli. Menurut M. Chahib Thohaadalah, evaluasi merupakan kegiatan yang terencana yang digunakan untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan beberapa bantuan alat dan instrument dan hasilnya akan dijadikan sebagai tolak ukur sehingga diperoleh suatu kesimpulan (Ramayulis, 2008). Evaluasi merupakan upaya untuk mengumpulkan dan mencari keterangan yang akan dijadikan bahan untuk menilai suatu program, menilai hasil, tujuan, atau menilai suatu manfaat dari suatu program atau kegiatan (Usman, 2010).

Penilaian atau evaluasi menurut Edwind Wand dan Gerald W.Brown adalah “the act or prosess to determining the value of something” maksudnya adalah kegiatan atau proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Evaluasi pendidikan berarti juga seperangkat tindakan atau proses untuk menentukan nilai yang berkaitan dengan dunia atau ranah pendidikan. Dengan diadakannya evaluasi dalam pendidikan ini maka dapat diketahui seberapa besar tingkat keberhasilan seorang pendidik atau tenaga pengajar dalam menyampaikan materi pelajaran kepada anak didiknya, dengan demikian dapat diketahui kelebihan dan kekurangan dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan, baik dalam hal materi, fasilitas, sarana dan prasarana, maupun lingkungan sekitar sekolah.

            Pendidikan sejak dulu hingga sekarang menjadi hal yang sangat penting bagi setiap orang, karena pendidikan merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh manusia dalam rangka menjalani kehidupannya di lingkungan masyarakat (Hemawati, 2020). Pendidikan agama Islam merupakan pendidikan dasar yang harus diberikan kepada anak didik sejak dini. Karena agama adalah pondasi yang dapat membentengi anak agar ketika ia remaja maupun dewasa nantinya dapat menyaring atau memfilter segala hal buruk (Samsul Rizal & Delvi Rama Yunita, 2020). Jadi, hubungan evaluasi dengan pendidikan sangatlah erat kaitannya. Evaluasi adalah suatu kegiatan untuk menentukan tingkat kemajuan dalam suatu pekerjaan atau kegiatan di dalam ranah pendidikan. Menurut pendidikan Islam, Evaluasi adalah cara penilaian tingkah laku atau sikap peserta didik berdasarakan kepada perhitungan yang bersifat menyeluruh, yakni meliputi aspek-aspek psikologis dan spiritual, dikarenakan pendidikan islam tidak hanya untuk manusia yang berilmu keagamaan yang tinggi atau religious saja tetapi pendidikan Islam juga untuk manusia yang memiliki sikap keduanya (Nata,2010).

            Disamping evaluasi terdapat pula istilah “measurement”. Measurement artinya adalah perbandingan data kuantitatif dengan data kuantitatif lainnya yang sesuai untuk mendapatkan nilainya (Samsul Rizal, 2020). Pengukuran mempunyai hubungan dengan evaluasi, pengukuran dalam pendidikan adalah usaha untuk memahami kondisi-kondisi objektif tentang sesuatu yang akan dinilai. Karena pengukuran berkaitan dengan angka-angka maka dari itu  diperlukan alat ukur tertentu untuk mengukur dan memperoleh hasil dari data kuantitatif. Pengukuran dalam pendidikan juga bersifat konkrit, objektif serta didasarkan atas ukuran-ukuran umum yang dapat dipahami dan dimengerti secara umum.

            Selain pengukuran, didalam evaluasi juga terdapat penilaian yang memiliki hubungan yang erat juga dengan evaluasi. Penilaian disini diartikan sebagai mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik dan buruk, Penilaian merupakan suatu proses penggambaran untuk memperoleh dan memberikan informasi yang berguna sebagai alternative pengambilan keputusan (Suryani, 2017). Jika pengukuran bersifat kuantitatif sedangkan penilaian bersifat kualitatif. Penilaian dalam pendidikan digunakan untuk menetapkan keputusan-keputusan tertentu, baik yang mencakup individu, siswa, guru, maupun kelembagaan.  Dengan diadakannya penilaian, keputusan apapun yang ditetapkan diharapkan agar sesuai dengan tujuan yang dicanangkan dapat tercapai. Penilaian dalam pendidikan Islam adalah agar tujuan yang berkaitan dengan kegiatan Islami benar-benar sesuai dengan apa yang diinginkan dan sesuai dengan nilai religious sehingga tujuan pendidikan Islam yang dicanangkan dapat tercapai.

            Dalam pelaksanaan evaluasi pendidikan biasanya membutuhkan suatu subjek dan objek yang akan dijadikan sebagai sasaran dalam pelaksanaan evaluasi. Subjek evaluasi dalam pendidikan Islam disini diartikan sebagai orang yang melakukan atau melaksanakan pekerjaan evaluasi. Dalam proses belajar mengajar, subjek adalah guru. Sedangkan objek evaluasi dalam pendidikan Islam pada umumnya adalah peserta didik, atau dalam arti yang khusus adalah segala sesuatu yang terdapat dan berkaitan dengan peserta didik.

            Objek atau sasaran evaluasi dalam pendidikan Islam memiliki beberapa jenis, yaitu: (1) Sikap atau tingkah laku peserta didik/siswa, dalam hal ini meliputi bakat dan minat serta kemampuan peserta didik dalam suatu bidang tertentu. (2) Kemampuan peserta didik dalam menangkap pelajaran dalam proses belajar mengajar, contohnya seperti dalam penguasaan materi pelajaran yang telah disampaikan oleh guru dalam proses belajar mengajar didalam kelas, apakah peserta didik tersebut mampu menguasai materi yang disampaikan oleh guru atau tidak. (3) Proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru dan peserta didik di lingkungan sekolah ataupun di dalam kelas, hal ini dapat mendukung terhadap keberhasilan peserta didik dalam proses belajar dan mengajar. Pengajaran yang baik yang dilakukan oleh guru dapat mempengaruhi keberhasilan siswa dalam menangkap materi yang disampaikan oleh guru. Maka dari itu, perlunya keseimbangan antara proses belajar dan mengajar yang telah dilaksanakan dengan guru yang berkompeten di kelas (Djamarah, 2000).

            Berdasarkan penjelasan yang telah disampaikan diatas dapat disimpulkan bahwasannya dengan mengetahui objek atau sasaran dalam evaluasi pendidikan, guru akan mudah untuk melaksanaksanakan serta melakukan alat evaluasi yang akan dipergunakan. Dengan demikian, alat evaluasi harus sesuai dengan apa yang dibutuhkan dalam proses belajar dan mengajar dan dapat berguna bagi perkembangan dan keberhasilan peserta didik. . Evaluasi pendidikan Islam juga dapat dilakukan dengan dua cara, Pertama evaluasi diri sendiri (self evaluation) dan yang kedua evaluasi terhadap orang lain (peserta didik). Maksud dari evaluasi terhadap diri sendiri adalah dengan mengintropeksi atau perhitungan pada diri sendiri. Evaluasi ini didasarkan pada kesadaran terhadap diri sendiri dengan tujuan agar meningkatkan kreatifitas pribadi. Peserta didik dapat mencoba untuk mengevaluasi dirinya sendiri dalam berbagai aspek belajar dan mengajar dalam pendidikan. Sedangkan evaluasi terhadap orang lain merupakan bagian dari kegiatan pendidikan Islam, kegiatan ini tidak hanya diperbolehkan namun wajib untuk dilakukan dan dilaksanakan.

2.     Tujuan Evaluasi Dalam Pendidikan Islam

            Sesuai dengan yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwasannya evaluasi dalam pendidikan adalah usaha untuk mengetahui dan menilai perkembangan yang terjadi pada anak didik. Oleh sebab itu, sebelum melakukan evaluasi guru hendaknya harus menentukan serta mengetahui tujuan dan sasaran yang hendak dicapai dari evaluasi yang dilakukan sehingga evaluasi yang dilakukan mempunyai tujuan yang khusus untuk menilai bagaimana perkembangan anak didik dalam proses belajar dan mengajar, apakah sudah baik ataukah belum. Tujuan evaluasi didalam pendidikan yaitu : (1) Tingkah laku dan pengalaman yang berhubungan dengan sang Pencipta. Disini akan dinilai sejauh mana loyalitas dan pengabdiannya kepada Allah SWT dengan berupa tingkah laku manusia yang mencermnkan keimanan serta ketakwaannya terhadap Allah SWT. (2) Tingkah laku atau sikap dirinya sendiri yang berhubungan dengan lingkungan masyarakat. Tujuan ini dilakukan untuk menilai sejauh mana peserta didik dapat menerapkan nilai-nilai yang bersifat keagamaan dan kegiatan dalam hidup bermasyarakat, seperti disiplin. (3) Tingkah laku atau sikap dan pengalamannya terhadap alam atau lingkungan sekitar. Disini akan dinilai bagaimana peserta didik dapat mengelola dan memelihara serta dapat menyesuaikan dirinya sendiri sengan alam sekitar, apakah alam sekitarnya dapat memberikan dampak yang baik atau memberikan dampak yang buruk bagi kehidupannya. (4) Sikap dan pandangan dirinya terhadap diri sendiri sebagai hamba Allah SWT dan  anggota masyarakat.

            Tujuan dari evaluasi diatas adalah ditujukan untuk melihat dan mengetahui proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru dan peserta didik, sarana dan prasarana sekolah, atau hasil dari proses belajar mengajar yang dilakukan oleh peserta didik. Evaluasi juga dapat mendorong para siswa agar lebih giat lagi dalam belajar secara terus menerus dan kepada guru diharapkan untuk dapat lebih meningkatkan kuliatas mengajar dalam proses pembelajaran serta mendorong sekolah untuk dapat meningkatkan fasilitas dan kualitas belajar siswa. Evaluasi banyak digunakan dalam berbagai bidang dan kegiatan, antara lain dalam kegiatan bimbingan dan penyuluhan, supervise, seleksi dan pembalajaran. Dalam kegiatan bimbingan, tujuan evaluasi adalah sebagai alat untuk mencari serta memperoleh informasi secara menyeluruh mengenai karakteristik para anak didik. Dan dalam kegiatan supervise, tujuan evaluasi adalah untuk menentukan suatu keadaan atau situasi dalam pendidikan, sehingga dapat dilakukan perbaikan untuk menentukan mutu pendidikan di sekolah (Ismail Marzuki, 2019).

Dapat disimpulkan bahwasannya tujuan dari evaluasi adalah untuk mengetahui kemampuan serta perkembangan peserta didik dalam proses belajar dan hubungan peserta didik dalam hubungan dirinya dengan Tuhannya, lingkungan masyarakat, alam sekitar, bahkan hubungannya dengan dirinya sendiri. Dengan beberapa tujuan evaluasi dalam pendidikan Islam yang sudah dipaparkan tersebut, evaluasi memiliki berbagai fungsi yang bermacam-macam. Fungsi evaluasi dalam pendidikan Islam merujuk kepada apa yang ada dalam Al-Quran dan hadits. Dalam rangka untuk menerapkan prinsip keadilan, keobjektifan, dan keikhlasan evaluasi dalam pendidikan Islam berfungsi sebagai: (1) Upaya untuk membantu pendidik untuk mengetahui apakah proses belajar mengajar yang dilaksanakan sudah mencapai hasil yang diharapkan atau tidak. (2) Upaya yang dapat membantu peserta didik dalam mengetahui kekurangan didalam proses belajar mengajar sehingga tingkah laku peserta didik dapat mengarah kepada yang lebih baik. (3) Upaya untuk dapat membantu para ahli dalam pendidikan Islam untuk dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan yang terdapat pada program yang telah dilakukan baik yang mencakup materi, maupun cara proses belajar mengajar yang dilakukan oleh tenaga pendidik/guru. (4) Cara untuk membantu di dalam bidang Pemerintahan guna untuk mengetahui kekuarangan dari kebijakan yang telah diterapkan sebelumnya. Sehingga dapat dijadikan patokan dalam memperbaiki kekurangan dalam sistem kebijakan dalam pendidikan Islam yang telah diterapkan sebelumnya. Dengan demikian, evaluasi dalam pendidikan Islam  berfungsi sebagai umpan balik (Feed back) terhadap kegiatan pendidikan., sehingga setiap orang dapat mengetahui kekurangan serta kelebihan dari apa yang telah dilaksanakan sebelumnya.

Umpan balik dari fungsi evaluasi pendidikan Islam ini berguna untuk : Al-Ishlah, yaitu perbaikan pada semua komponen-komponen dalam pendidikan, termasuk perbaikan pada sikap atau perilaku, wawasan dalam pengetahuan, dan kebiasaan-kebiasaan peserta didik. Tazkiyah,  yaitu penyucian terhadap komponen-komponen dalam pendidikan. Artinya adalah melihat kembali program-program pendidikan yang dilaksanakan, apakah metode, atau program itu penting atauhkah tidak dalam kehidupan peserta didik. Tajdid, yaitu pembaharuan terhadap segala sesuatu  baik dalam kegiatan pendidikan, proses belajar dan mengajar, metode dan sebagainya. Tadkhil, yaitu pemasukan laporan bagi orang tua peserta didik sehingga dapat dijadikan sebagai kekurangan serta kelebihan peserta didik. Masukan ini dapat berupa nilai raport, ijazah ataupun piagam penghargaan atas prestasi yang telah dicapai oleh siswa. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa fungsi dari evaluasi dalam pendidikan merupakan sisi baik serta kelebihan dari para peserta didik ataupun pendidik.

Mengevaluasi dalam hal yang baik dapat membuahkan hasil yang sesuai diharapkan maka diperlukan prinsip-prinsip yang mengacu pada tujuan keberhasilan pelaksanaan evaluasi. Tujuannya adalah sebagai acuan yang dirumuskan sehingga dapat menggambarkan dengan jelas apa yang mau dicapai. Dalam mengevaluasi harus dilaksanakan secara objektif, Evaluasi yang obyektif berartikan harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan fakta yang ada dan tanpa dipengaruhi oleh unsur-unsur subjektifitas ataupun masalah pribadi lainnya. Sikap obyektif yang harus ada dalam evaluasi pendidikan Islam yaitu: (1) Shiddiq yang artinya benar atau jujur. Orang yang melakukan evaluasi dalam pendidikan Islam harus mempunyai sikap jujur ini, sehingga dapat diperoleh hasil yang akurat dan dapat dijadikan acuan dalam perbaikan. (2) Amanah yang artinya dapat dipercaya. Maksudnya adalah orang yang melaksanakan evaluasi harus orang yang dipercaya, jujur serta tidak mempunyai sifat khianat. Karena dengan begini, hasil yang didapatkan dalam evaluasi tidak dapat dimanipulasi oleh evaluator dan dapat membawa pengaruh yang baik bagi pihak evaluasi. (3) Sikap ramah tamah dan ta’wun yang artinya adalah sikap kasih sayang dan tolong menolong. Dengan mempunyai sikap seperti ini, maka hasil yang didapatkan tidak menjerumuskan oleh pihak yang di evaluasi dan dari pihak yang mengevaluasi akan berusaha untuk dapat menolong tumbuh kembangnya dalam instansi pendidikan baik peserta didik maupun bagi pihak sekolah (Umar, 2010).

 Evaluasi bersifat komprehensif atau menyeluruh mempunyai aspek-aspek yang menjadi tujuan dalam aspek yang mencakup keseluruhan hal yang dapat menunjang keberhasilan dalam pendidikan Islam, aspek-aspek tersebut meliputi kepribadian siswa, pemahaman materi, kerajinan, ketulusan, kecermatan, kerja sama, tanggung jawab dan lain sebagainya. Evaluasi dilakukan secara kontinuitas atau terus-menerus tiidak hanya dilakukan setahun sekali, atau sebulan sekali, melainkan terus menerus, pada waktu kita mengajar sambil mengevaluasi sikap dan perhatian murid pada waktu pelajaran sampai berakhirnya pelajaran tersebut.. Dengan cara mengulang pelajaran dengan mengajukan pretest atau post test, apalagi sewaktu-waktu diketahui murid menunjukkan sikap tertentu, maka hendaknya juga dicatat. Evaluasi bersifat validitas dilakukan dengan hal-hal yang seharusnya dievaluasi dengan meliputi seluruh bidang-bidang tertentu yang ingin diketahui dan diselidiki, dan soal-soal yang disusun dapat memberikan gambaran keseluruhan dari kesanggupan anak menangani bidang tertentu. Evaluasi bersifat reliabilitas Pelaksanaan evaluasi dapat dipercaya. Artinya memberikan evaluasi kepeda peserta didik sesuai dengan tingkat kesanggupannya dan keadaan yang sesungguhnya, serta tidak menimbulkan penafsiran yang bermacam-macam. Dalam melaksanakan evaluasi harus menerapkan prinsip yang didasarkan karena Allah SWT atau semata-mata karena beribadah kepada Allah serta mempunyai sifat yang tulus dan mengabdi dalam pribadi evaluator.

Evaluasi juga dilaksanakan dengan prinsip apa yang harus dievaluasi merupakan bagian integral dari proses belajar mengajar, bersifat komparabel yaitu dapat dibandingkan antara satu tahap penilaian dengan tahap penilaian lainnya, serta memiliki kejelasan bagi para siswa, dan bagi para pengajar.

 

3.     Evaluasi Dalam Perspektif Islam

Evaluasi dalam perspektif Islam ini mencakup evaluasi hasil belajar dan pembelajaran. Maka dari itu, sebagai seorang pendidik harus dapat membedakan mana yang haq dan yang bathil dalam kegiatan hasil belajar mengajar. Evaluasi hasil belajar mencakup pada penekanan pada pencapaian informasi tentang seberapa hasil yang dicapai oleh anak didik sesuai dengan tujuan evaluasi dalam pendidikan Islam yang telah ditetapkan, sedangkan evaluasi pembelajaran adalah suatu proses yang sistematis untuk memperoleh berbagai informasi tentang keefektifan dalam proses pembelajaran dalam membantu para anak didik untuk dapat mencapai tujuan yang sudah ditetapkan secara optimal.

Prinsip tersebut sejalan dengan tuntunan Islam dalam firman Allah:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوۡنُوۡا مَعَ الصّٰدِقِيۡنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.(Q.S At-Taubah:119)

Dapat disimpulkan bahwa dalam menjalankan evaluasi perlu memegang prinsip-prinsip tertentu agar dapat mencapai hasil yang akurat. Prinsip-prinsip yang dimaksud tersebut adalah bahwa dalam evaluasi harus berjalan sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dalam pendidikan Islam, dilakukan dengan sebenar-benarnya tanpa adanya rekayasa sehingga dapat menghasilkan data yang akurat dan dapat dipercaya. Sistem evaluasi yang diterapkan dalam pendidikan Islam selalu beriorentasi dalam berdasarkan kepada evaluasi yang telah disebutkan Allah dalam kitab sucinya dan mengacu kepada apa yang harusnya disebutkan Allah dalam risalahnya. Pertama: evaluasi dalam pendidikan Islam bertujuan untuk menguji keimanan seseorang hamba dalam mengahadapi cobaan seperti halnya dalam firman Allah:

وَلَـنَبۡلُوَنَّكُمۡ بِشَىۡءٍ مِّنَ الۡخَـوۡفِ وَالۡجُـوۡعِ وَنَقۡصٍ مِّنَ الۡاَمۡوَالِ وَالۡاَنۡفُسِ وَالثَّمَرٰتِؕ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيۡنَۙ

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”. (Q.S Al-Baqarah:155).

Kedua: Untuk dapat mengetahui seberapa jauh dalam penerimaan wahyu seorang hamba terhadap apa yang telah diajarkan rasulullah kepda umatnya, dalam firman Allah:

قَالَ الَّذِيْ عِنْدَهٗ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتٰبِ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ يَّرْتَدَّ اِلَيْكَ طَرْفُكَۗ فَلَمَّا رَاٰهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهٗ قَالَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْۗ لِيَبْلُوَنِيْٓ ءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُۗ وَمَنْ شَكَرَ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ

“Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di, dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya, Mahamulia.”(Q.S An-Naml:40)

Ketiga: Pengevaluasian Allah terhadap keimanan nabi Ibrahim dalam perintahNya untuk menyembelih putranya terdapat dalam firman Allah:

فَلَمَّآ أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ(103)وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ(104)قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ(105)إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلْبَلَٰٓؤُا۟ ٱلْمُبِينُ(106)وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ(107)

“Tatkala dramatis telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran kelebihan).Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim,sebenarnya kamu telah membenarkan mimpi itu sebenarnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang baik.Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”.(Q.S Ash-Saffat:103-107)

Keempat: Evaluasi untuk mengukur daya ingat, daya hafalan, dan untuk menguji ingatan akan pelajaran yang telah diberikan kepda peserta didik yang telah diberikan oleh Allah terhadap Nabi Adam tercantum dalam firman Allah:

وَعَلَّمَ اٰدَمَ الۡاَسۡمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمۡ عَلَى الۡمَلٰٓٮِٕكَةِ فَقَالَ اَنۡۢبِــُٔوۡنِىۡ بِاَسۡمَآءِ هٰٓؤُلَآءِ اِنۡ كُنۡتُمۡ صٰدِقِيۡنَ

“Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!”.(Q.S Al-Baqarah:31)

Kelima: Hasil evaluasi dijadikan pemberi kabar gembira bagi mereka yang berbuat baik dan memberi balasan kepada mereka yang berbuat buruk

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ°وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ}

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS az-Zalzalah 7-8)

Keenam: Evaluasi tidak dilakukan tanpa memandang penampilan, tetapi melihat keseriusan dibalik perilakunya. Seperti hal yang telah diberikan Allah dalam firman Allah:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِين

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-Hajj : 37)

Ketujuh: Dalam Evaluasi dilakukan dengan sistem keadilan dan tidak dikaitkan dengan masalah pribadi.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُونُوا۟ قَوَّٰمِينَ بِٱلْقِسْطِ شُهَدَآءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰٓ أَنفُسِكُمْ أَوِ ٱلْوَٰلِدَيْنِ وَٱلْأَقْرَبِينَ ۚ إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَٱللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلْهَوَىٰٓ أَن تَعْدِلُوا۟ ۚ وَإِن تَلْوُۥٓا۟ أَوْ تُعْرِضُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan”. (Q.S An nisa:135)

Dari pemaparan diatas dinyatakan bahwa sistem evaluasi dalam pendidikan Islam sangat erat dengan firman-firman Allah. Bahwa evaluasi dalam pendikan Islam adalah menguji keimanan manusia terhadap masalah apa yang telah dialami dan dihadapinya. Evaluasi juga untuk menentukan tingkat taraf keimanan seseorang, mengukur daya ingat seseorang dan dapat memberikan kabar yang baik untuk mencapai keimanan dalam bersikap yang adil. Kajian evaluasi tidak hanya berfokus ke dalam aspek kognitif saja tetapi melalui aspek-aspek lainnya seperti pada aspek efektif dan psikomotor. Ranah pendidikan Islam evaluasi juga diarahkan pada pengembangan moral Islam atau akhlak dalam pengembangan fitrah manusia dimana fitrah manusia memiliki tugas sebagai ‘abid. ‘Abid adalah dimana manusia diwajibkan beribadah kepada tuhannya, dan juga sebagai khalifah yang dimana diharuskan untuk memakmurkan dan membangun kehidupan yang layak dimuka bumi ini.

C.   KEDUDUKAN EVALUASI DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Evaluasi dalam pendidikan Islam terdiri dari tiga jenis evaluasi yang dimana evaluasi ini telah sesuai dengan firman Allah. Jenis-jenis evaluasi tersebut adalah sebagai berikut:

1.      Evaluasi harian adalah evaluasi yang dilakukan disetiap penghujung hari sebagai bentuk muhasabah diri tentang apa yang telah dilakukan dalam waktu sehari hari.

2.      Evaluasi mingguan yang dimana setiap minggunya tepat pada hari jum’at digunakan untuk perenungan terhadap perbuatan yang telah dilakukan selama satu minggu.

3.      Evaluasi tahunan dilakukan pada setiap bulan ramadhan untuk menjalankan puasa, memperbanyak baca al-qur’an dan mengingatkan diri kepada manusia bahwasannya hanyalah hamba Allah yang fakir dihadapan Allah SWT.

Dalam konteks pendidikan evaluasi qur’anic mempunyai karakter yang sama dengan evaluasi evaluasi pendidikan yang ada dibawah ini. Pertama: Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dialkuakan dalam penilaian dan juga dilakukan kepada manusia, karena manusia memiliki banyak kelemahan dan membutuhkan bantuan dan pendorong, seperti pada firman Allah dalan Al-quran surah An-nisa ayat 28.

يُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمْ ۚ وَخُلِقَ ٱلْإِنسَٰنُ ضَعِيفًا

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah”. (Q.S An-Nisa:28)

Kedua: Evaluasi  sumatif adalah penilaian yang dilakukan untuk menilai hasil keseluruhan dari proses belajar mengajar pada setiap akhir periode belajar mengajar. Evaluasi tersebut sejalan dengan Al-Qur’an surah Al-Insyiqaq ayat 19 dan Al-Quran surah al qamar ayat 49.

لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَن طَبَقٍ

“Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan)”. (Q.S Al Insyiqaq:19)

اِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ

“Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran”. (Q.S Al-Qamar:49)

Ketiga: Evaluasi placement adalah evaluasi atau penilaian tentang pribadi peserta didik untuk kepentingan penempatan di dalam situasi belajar yang sesuai dengan kondisi peserta didiknya (Ramayulis, 2008). Karena setiap peserta didik mempunyai karakter serta kemampuan yang berbeda-beda dalam mengikuti proses pembelajaran. Jika kelebihan dalam hal tersebut dapat dikembangkan dan kelemahan tersebut dapat diperbaiki seperti firman Allah:

اُنْظُرۡ كَيۡفَ ضَرَبُوۡا لَكَ الۡاَمۡثَالَ فَضَلُّوۡا فَلَا يَسۡتَطِيۡعُوۡنَ سَبِيۡلً

“Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan untukmu (Muhammad); karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar)”. (Q.S Al-Isra:48)

Empat: Evaluasi diagnostik adalah evaluasi untuk mengetahui dan menganalisis tentang keadaan peserta didik, baik dengan berkenaan untuk kesulitan maupun hambatan yang telah dijumpai dalam kegiatan belajar mengajar tersebut. Dalam Islam difirmankan:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴿ ٥﴾إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ﴿ ٦﴾فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ ﴿ ٧﴾

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain”, (Q.S Al Insyirah:5-7)

Kelima: Evaluasi kokurikuler adalah kegiatan yang telah dilakukan di luar jam pelajaran berlangsung yang telah ditempatkan dalam struktur progam berupa penugasan atau pekerjaan rumah. Dalam melaksanakan kegiatan evaluasi diperlukan berbagai alat-alat dan teknik yang berguna untuk mempermudah dalam pelaksanaan evaluasi. Alat yang digunakan dalam evaluasi terbagi kedalam kedua bentuk yaitu: (1) Evaluasi menggunakan tes baku (Alat yang digunakan sebagai tes pengukuran secara tepat), dan (2) Evaluasi menggunakan tes tidak baku (Alat yang digunakan hanya untuk kepentingan proses belajar mengajar dikelas yang diampu).

1.     Tahapan Evaluasi Dalam Pendidikan Islam

Dalam melaksanakan evaluasi seharusnya dilakukan dengan cara sistematis dan terstruktur sehingga dalam kegiatan evaluasi ini dapat menghasilkan tujuan yang sesuai dengan yang diharapkan. Tahapan-tahapan yang diperlukan dalam pelaksanaan proses evaluasi pendidikan Islam adalah: (1) Perencanaan, merupakan suatu proses yang ingin dicapai dalam evaluasi pendidikan Islam dan juga untuk menetapkan berbagai langkah yang diperlukan dalam proses evaluasi pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. (2) Pengumpulan data, merupakan melakukan pengukuran misalnya dengan mengadakan tes hasil belajar (jika dalam evaluasi hasil belajar menggunakan test), atau melaksanakan pengamatan ataupun wawancara atau angket dengan menggunkan instrument-instrument tertentu seperti rating scale, check list, interview guide, atau questionnaire (jika dalam evaluasi hasil belajar tidak menggunakan test). (3) Verifikasi data, merupakan tahap dimana dilakukan pemeriksaan atas kevalidan dan kebenaran suatu hasil yang didapat dalam proses evaluasi dalam pendidikan, seperti mengecek kelengkapan identitas peserta didik dan sebagainya. (Dedi Wahyudi, 2016)  (4) Pengelolaan data, merupakan segala ssesuatu pengelolaan terhadap data dari segala macam pengelolaan yang berguna untuk mendapatkan hasil dalam proses evaluasi tersebut. (5) Penafsiran, merupakan proses maupun cara guna untuk menjelaskan proses tahapan dalam kegiatan evaluasi. dan (6) Kesimpulan evaluasi, merupakan suatu tahapan kegiatan evaluasi ataupun proses evaluasi dalam pendidikan Islam berdasarkan beberapa tahapan yang sudah dilaksanakan sebelumnya sehingga didapat hasil dan keputusan dari proses tahapan evaluasi dalam pendidikan Islam.

 

2.     Kedudukan Evaluasi Dalam Pendidikan Islam

Dalam pendidikan Islam, Evaluasi memiliki kedudukan yang sangat strategis. Hal tersebut disebabkan karena kegiatan evaluasi ini dapat digunakan dan dipakai sebagai input untuk melakukan dan melaksanakan perbaikan khususnya dalam kegiatan belajar dan mengajar. Dalam ajaran Islam menaruh harapan serta perhatian yang sangat besar terhadap kegiatan evaluasi, Allah SWT telah berfirman didalam Al-Quran yang diberitahukan kepada kita sebagai umat, bahwa evaluasi terhadap manusia yang dididik merupakan suatu tugas yang sangat penting dalam rangkaian proses pendidikan yang harus dilakukan oleh seorang pendidik/guru/tenaga pengajar (Hasmiati, 2016). Hal tersebut sesuai dengan friman Allah SWT dalam Qs. Al-Baqarah (2):31-32, sebagai berikut:

وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ فَقَالَ اَنْۢبِـُٔوْنِيْ بِاَسْمَاۤءِ هٰٓؤُلَاۤءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ

Artinya : “Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!” . Mereka menjawab, ‘Mahasuci Engkau, tiada ilmu pada kami kecuali yang Kau ajarkan kepada kami. Sungguh, Kau maha tahu lagi maha bijaksana,” (Qs. Al-Baqarah : 31-32)

Dari ayat diatas dapat disimpulkan menjadi empat hal, yaitu Allah telah bertindak sebagai seorang gutu atau pendidik yang memberikan materi pelajaran kepada Nabi Adam AS, maka dari itu para malaikat tidak dapat menyebutkan nama-nama benda-benda tersebut. Allah SWT telah meminta kepada Nabi Adam AS agar mengumumkan ajaran yang telah disampaikan olehnya didepan para malaikat, ayat diatas mengisyaratkan bahwa materi evaluasi dalam pendidikan Islam harus sesuai dengan materi yang diberikan dan diajarkan.

 

SIMPULAN DAN SARAN

            Kegiatan evaluasi memiliki prosedur yang jelas. Evaluasi dalam pendidikan Islam memiliki kaitan yang sangat erat dengan yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an, yaitu evaluasi yang dilakukan kepada peserta didik tidak hanya menyangkut tentang keilmuan dan juga bukan hanya hal-hal yang berkaitan dengan keagmaan saja tetapi harus memiliki keseimbangan diantara keduanya. Yakni prinsip-prinsip evaluasi yang sepatutnya diterapkan tanpa mengikuti prinsip ini hasil evaluasi masih dipertanyakan, prinsip-prinsip tersebut adalah valid, reliabilitas, objektif, dan praktis menggambarkan kemampuan belajar peserta didik. Tujuan evaluasi yaitu: untuk menguji daya kemampuan manusia, untuk mengetahui hasil pendidikan yang telah dilaksanakan, untuk menentukan klasifikasi hidup manusia.

            Dengan pembahasan di atas maka diharapkan agar para peserta didik maupun tenaga pendidik dapat menerapkan sistem evaluasi dalam memahami pendidikan Islam sesuai dengan prinsip-prinsip yang berlaku sehingga kegiatan pembelajaran dapat dilakukan tanpa hambatan dan sesuai dengan kriteria-kriteria pembelajaran yang diterapkan dalam ruang lingkup sistem pendidikan Islami.

 

DAFTAR PUSTAKA

Baalbaki, M. (2006). Al-Mawrida a Basic Modern English-Arabic Dictionary. Beirut: Dar El-Ilm Lil-Malayen.

Djamarah, S.B. (2000). Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Hasmiati, (2016). Kedudukan Evaluasi Dalam Pendidikan Islam, Jurnal Kajian Islam & Pendidikan, 21.

Hemawati, (2020). Hubungan Bimbingan Belajar Orang Tua Dengan Hasil Belajar IPS Siswa Kelas XI SMA Negeri 3 Palangka Raya, Jurnal Teknologi Pendidikan, 1(1).

Junanto, S. (2016). Evaluasi Pembelajaran di Madrasah Diniyah Miftachul Hikmah Denanyar Tangen Stragen. Jurnal At-Tanbawi, 1(1), 177-196.

Marzuki, Ismail. (2019). Evaluasi Pendidikan Islam, Jurnal Tadarus Tarbawy, 1(1), 80.

Mujib, M.’Ali. (2006). Ta’atsur Al-Masihiyah Al-Wadiyah (Ke-1). Kairo: Dar Al-‘Afaq Al-Arabiyah.

Mursyi, M. (1987). At-Tarbiyah Al-Islamiyah Usuluha Wa Tathawuruha Fi Al-Abilad Al-Arabiyah. Kairo: Dar Al-Ma’rifah.

Nata, A. (2010). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Ramayulis, (2002). Metodologi Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Kalam Mulia.

Ramayulis, (2008). Ilmu Pendidikan Islam (Ke-10). Jakarta: Kalam Mulia.

Saifulloh, A., & Safi’I, I. (2017). Evaluasi Pembelajaran Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama (Studi Kasus di SMPN 2 Ponorogo). Jurnal Educan, 1(1).

Samsul Rizal, (2021). Ilmu Pendidikan Islam, Medan: Merdeka Kreasi Group.

Samsul Rizal, & Delvi, R,Y. (2020). Pengaruh Pendidikan Budi Pekerti Dalam Keluarga Terhadap Akhlak Siswa di Mts Al-Washliyah Desa Sei Mencirim Kecamatan Kutalimbaru Kabupaten Deli Serdang, Jurnal Ansiru PAI, 111-112.

Sudion, A. (2005). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Suryani, Y. E. (2017). Pemetaan Kualitas Empirik Soal Ujian Akhir Semester pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMA di Kabupaten Klaten. Jurnal Pendidikan dan Evaluasi Pendidikan, 21(2), 142-152.

Umar, B. (2010). Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Amzah.

Usman, (2010). Pendidikan Islam Konsep Aksi Dan Evaluasi. Yogyakarta: Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga.

Wahyudi, Dedi. (2016). Konsepsi Al-Qur’an Tentang Hakikat Evaluasi Dalam Pendidikan Islam, Jurnal HIKMAH, XII(2), 263-264.

Wahyuningsih, R., & Budiyono. (2014). Pengembangan Model Evaluasi Penyelenggaraan Sekolah Islam Terpadu. Jurnal Penelitian Dan Evaluasi Pendidikan, 18(2), 246-260.

 

 

SMP NEGERI 3 HAMPARAN PERAK SMP Negeri 3 Hamparan Perak berlokasi di Dusun IV, Jl.Pondok Batu Desa Tandem Hulu I. SMP ini terbilang baru dan sudah cukup berkembang dan diminati warga sekitar. Sehingga kedepannya diharapkan SMP ini bisa semakin sukses dan maju.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel